Frame
Wednesday, December 11, 2013, ϟ 0 shout(s)



Aku, Kamu, dan Selang Oksigen.
Siang itu, kita masih di ruang IGD. Kau masih merintih menahan perih karena kedua perawat sedang membersihkan lukamu dengan kapas basah. Tangan kirimu semakin erat ketika sebuah jarum suntik dipaksa masuk menembus pori-pori kulitmu. Air infus menetes satu-satu. Nafasmu tersenggal-senggal dibantu alat bantu pernafasan. Uap air keluar dari selang bening yang segera masuk ke lubang hidungmu. Hening. Hanya ada desis air yang sebentar lagi habis karena diubah menjadi gas.
“Maaf,” dengan segala upayamu kau mengatakannya demikian pelan. Aku benci. Sungguh membenci ini. Air matamu menggenang. Sungguh berhentilah merasa bersalah. Kumohon jangan sekarang. Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu. Aku tidak ingin kamu sembuh begitu saja. Aku ingin kau sembuh segera. Tolonglah sembuh secepatnya. Aku butuh melihat kau bahagia juga.
Lalu pintu IGD terbuka. Orang tuamu.


Aku, Kamu, dan Tetes Infus.
                Televisi masih menyala tanpa suara. Ibumu sedang melepas lelah dibelakangku. Suara AC bergemuruh pelan mengisi seluruh sudut ruangan. Kau menatapku lesu, tak memiliki cukup daya untuk bicara apalagi bangkit. Kita bertatapan untuk sekian lama. Ditemani tetes infus dan layar tv yang bisu, kita saling menguatkan dalam diam.
                Tiba-tiba bola matamu bergerak keatas. “Pik air infusku habis.”


Aku, Ibumu, dan Teras Rumah Sakit.
                Sore itu,awan menyembunyikan sisa cahaya matahari. Lampu-lampu sudah dinyalakan sebagai pengusir gelap. Namun sepertinya matamu tak juga segera lepas menatapku. Kantukmu tak bisa bersembunyi dibaliknya. Sesekali kau memejamkan mata. Lalu terjaga lagi. Begitu untuk sekian waktu hingga otot matamu akhirnya menyerah.          
                Dengan sangat hati-hati, kulepaskan tanganmu. Langkahku keluar pelan-pelan. Lalu duduk di sebelah ibumu di kursi panjang teras. Kami saling melempar diam. Titik-titik air yang jatuh dari langit memecah keheningan menjadi gemuruh lirih.
                “Hujan tante.”
                “Iya. Dingin,” dilanjutkan senyum tipis dan lagi-lagi sunyi.
                Sungguh bisa aku rasakan segala lelah yang tampak di raut wajahnya. Lorong-lorong panjang rumah sakit yang menggemakan para air yang sudah kian deras. Dan lagi-lagi hanya ada hening panjang diantara kami.


Aku, Tiramisu, dan Sepotong sosis.
                Aku membeku. Otakku membatu. Jalan pikiranku buntu. Tangan kananku memegang pisau dan tangan kiriku memegang garpu. Sosis di depanku sudah sedingin suhu AC ruangan ini. Es batu terakhir baru saja mencair. Mataku baru saja meleleh ketika pelanggan terakhir baru saja keluar. Kedua garis di bawah mataku makin memperjelas keadaanku. Harus sepperti inikah Tuhan menghukum kami?
                Ya, pesan singkat terakhirmu. Seolah Tuhan membiarkan aku tenggelam bersama seluruh hutang moral. Membiarkan aku terseok dengan pernyataan putus asamu. Membiarkan aku sekarat bersama rasa bersalahku.
                “Kak, ini bill-nya.”


Aku saja.
                Barusaja kudapati sebuah fakta gila. Membekukan seluruh jalan pikiranku. Mematikan syaraf-syaraf kemanusiaanku. Aku hanya tercengang dalam getir panjang. Aku, ya aku, dengan kondisi kejiwaan sangat sehat, sedang tidak bisa menelan segala bentuk emosi apapun.
                Aku. Sedang duduk di teras rumah sakit dengan pandangan tidak fokus. Meremas ujung serat kain kuat-kuat. Mencari celah-celah kekuatan dari kecilnya harapan. Aku masih tidak mengerti mengapa Tuhan menganggap aku sanggup melewati ini. Bahkan untuk menyelamatkan diri sendiripun aku sudah sepayah ini. Tidak ada yg sanggup aku tulis untuk mewakilkan segenap perasaan yg sekarang naik ke permukaan.

Wednesday, October 16, 2013, ϟ 0 shout(s)

Kapan lagi kau daratkan ciuman bertubi-tubi
Bersama luapan dahaga akan rindumu padaku?

Aku bisa apa?
ϟ 0 shout(s)

Aku bisa apa bila waktuku tiba?
Menyaksikanmu melepas ciuman yang rasanya tidak pernah basi.
Merengganggkan pelukan dan membiarkan dingin menyapu pori2 melalui serat-serat kain.
Melepaskan genggaman telapak tanganku dan membiarkannya menggigil sendirian.
Berhenti meneduhkan jiwaku.
Membiarkannya basah dikecup rintik-rintik sedih yang kian menenggelamkan suaramu.
Menyaksikan matamu yang perlahan-lahan meninggalkan ssokku.
Mencari-cari aku dalam matamu.
Tiada aku disana.

Aku bisa apa?
Aku bisa apa?

Menjadimu
ϟ 0 shout(s)

Seperti ini ya rasanya jadi kau? Menelan sakit pelan-pelan. Membendung rindu sendirian. Sekarat karena cinta yang kau pilih memaksa untuk menjadi pedih. Memilih untuk tetap mencintai dalam diam. Meraba-raba sekecil apapun kebahagiaan yang datang.

Matamu rapuh seperti kelopak bunga yang terbengkalai. Tapi kau lebih memilih merekah merah. Lalu mengeja cintaku seperti puisi yang ingin dimengerti. Harus dengan cara apa aku mencintaimu?


Kau memilih untuk karam di tepian teluk. Menambatkan jangkar dalam kesunyiannya yang beku. Membiarkan ombak membentur-bentur badanmu hingga kikis. Melukis pagimu sendirian. Tenggelam bersama segala gejolak asmara yang telah merenggut nyawamu.

Cintai aku sebisamu
ϟ 0 shout(s)

Cintai aku sebisamu.
Namun kau mencintaiku sepenuhnya.Hingga tak menyisakan sedikit benci untukku.


Aku menangis membaca garis-garis sedih yang kau eja bagai syair pujangga. Getir di lidahku, menggetarkan genangan kisah di pelupuk matamu. Aku bisa apa dengan seluruh tatapmu membunuh syaraf dan detak kehidupan dalam darahku?

bila suatu saat
Sunday, July 28, 2013, ϟ 1 shout(s)



(Bila Suatu Saat Kamu Pergi)
(Bila Kamu Sudah Tak Menyimpan Hati Kepadaku)

Bukan salahmu bila ingin pergi
Tidak apa-apa
Akhirnya aku berfikir
Mungkin suatu hari kamu akan pergi
Seperti yang lain
Seperti yang pernah kita lakukan, dulu
Dan suatu ketika,
Aku ternyata bukanlah orang yg ingin kamu bersamai
Seperti yang kamu ucapkan setiap hari
Dan kita ikhlaskan saja semuanya (lagi) (?)
Dan menerima bahwa kita adalah (tetap) akan menjadi teman
Yang sama-sama menutupi dosa satu sama lain
Dan pergi dengan hati yang baru
Hingga rasa sakit terlupakan oleh kesenangan yang baru
Hanya terlupakan
Bukan hilang
Atau sembuh

(Saya berharap tulisan ini tidak benar-benar akan saya sampaikan)

Duka Kecil Yang Menyeruak
ϟ 0 shout(s)



Ini hanya sedikit curahan duka saya atas nostalgia miu yang tiba2 menguap. Entah bisa menyentuh emosimu atau tidak. Tapi pastilah, kalau kau pernah mempunyai ‘kesayangan’ , kau tau apa ‘rasa’ ini.
Yang akhirnya saya sadari, beberapa menit lalu, ketika saya masih menggulung diri di kasur, dengan Chiken Soup di tangan.. 75 kisah kucing, sudah sangat cukup menjelaskan tentang yang sebenarnya terjadi. 75 itu hanya satu persekian triliun kisah lainnya..
Dulu , setiap saya membaca kisah2 keajaiban yang bisa datang dari seekor kucing, saya hanya berfikir “Kenapa kucing ku nggak kayak gitu. Kenapa kucingku biasa aja? “ dan pertanyaan itu benar2 saya sesali sekarang. Saya membayangkan, dia sedang di pangkuan Tuhan, bertanya “Tuhan, apakah Engkau mencipptakan makhluk yang biasa saya seperti aku? Mengapa aku? Mengapa aku tidak Kau jadikan aku spesial seperti yang pemilikku inginkan?”. Dan aku masih tetap pertanyaan yang sama disini. Bukankah itu menyakitkan?
Oke tunggu. Saya sedang mencari tisu untuk mengeringkan pipi saya..

Dan, ingatan yang lagi adalah, tentang seorang teman psikolog yang membaca grafis saya yang mengatakan “Kau ada trauma mendalam”. Dan aku langsung merutuk pada sebuah nama mantan ‘kekasih’ yang sudah saya hapus dari peradaban sejarah hidup. Tapi sepertinya bukan dia..
                Tadi sore, aku sedang berada di rumah nenekku. Aku sedang duduk di teras saja, menunggu pintu yang tidak segera dibuka. Tiba2 seekor kucing berlari cepat di depan rumah. Lalu berhenti mematung lama sekali. Aku dan dia beradu pandang. Lama sekali. Dan selalu yang saya katakan adalah “Hai?” lalu dia berjalan pelan, anggun, ke arah semak2. Seolah tidak ada lagi yang perlu di takutkan sehingga berlari-lari gila. Seperti itulah interaksi kami. Sederhana sekali kan? Tapi bisa tidak kau percaya, bahwa detik itu perasaan saya mekar. Mengembang. Dan saya menyimpulkan “Tidak ada lagi mata yang dapat menyelamatkan hatimu setelah ibu dan ayah, kecuali kucing”.
Tapi, kau juga tidak akan pernah tau sebelum mengalaminya. Bahwa tatapan meratap seekor kucing dapat membawa mimpi buruk dan kecemasan yang dapat membunuhmu pelan2. Setidaknya itu yg saya alami.
Mungkin sudah cukup basa-basinya.
Waktu itu, saya masih gadis labil yang baru saja menerima Ijazah SMP.
Dan mbak pulang dengan keranjang hijau di tangan. “Dek, ini temenku udah males ngurus kucing. Di titipin kita. Dirawat yaa”.  Dan itu bener2 salah satu hari terindah. Gumpalan awan itu bergerak keluar dari dalam keranjang. Bersembunyi dibalik meja2 dan apapun yang dapat melindungi badannya.
“Dititipin sampe kapan mbak?”
“Sampe kamu bosen”
“Ih nggak mungkin lah kalo bosen!” dan si kucing cuma sembunyi sana sembunyi sini. “Kok gak mau dipegang?”
“Dah biarin aja dulu. Dulu sering dipukulin, jadi ya gitu. Penakut sekarang.”
Dan ideku muncul. Pura-pura jaim. Pura-pura nggak sadar ada anggota negara baru di sini. Acuh. Iya pura-pura. Padahal mata tetap jaga-jaga, kalo-kalo dia butuh bantuan (?).
Sayanya sih sok belajar. Gulung2 di kasur dengan seluruh kegiatan berpusat pada pena dan buku tulis. Dan dia, cuma di bibir pintu. Mengintip.
3 hari dia siaga mengawasi gerak gerik saya. Tapi tetap menggan dipegang. Kalau dipaksa? Meraung.
Dan bendera kemenangan saya sudah tiba. Pertahanannya lebur, mencair. Dia, sudah berlari-lari di hari empat dan seterusnya. Ketika saya sok belajar, boro-boro dia ngintip saya. Dia malah udah naik ke ranjang, menjarah isi pensil dan menggigiti semuanya. Buku saya, lecek parah.
Dan dihari-hari lelah, saya selalu mencari2 dia. Meskipun tidur, meskipun sedang malas bermain, meskipun sedang acuh parah sama saya. Saya Cuma mau dengerin dengkuran nya. Itu lebih dari pelukan patjar kamu. Di waktu-waktu sedih, saya mencari2 matanya, yang akan dengan senang hati menemani saya meringkuk di ranjang, meneduhkan hati saya, memadamkan emosi saya.
Di malam-malam yang senyap, dia senang menyusul saya tidur di kaki saya, di dada saya, di leher saya, di rambut saya, di muka saya ! dia hobi meraih rambut saya yang lebih mirip benang kusut. Iya kucing suka tali, dan ini lah bentuk simile paling jujur. Huhh
Di lain waktu, dia suka membangunkan saya dini hari. Ya, solat malam lah. Apa lagi. Seperti digigit2nya kaki saya sampai bangun, atau diinjak2nya badan saya tidak sabar.
Dan cinta-cinta yang kecil ini berubah wujud menjadi ‘gila’ . Dan perwujudan kegilaan yang pertama adalah ketika, mbak saya telfon ketika saya masih ‘pelajaran’ dan dengan suara yang jelas2 nggak bisa di dengerin karena mungkin hape sudah air mata semua, bilang ‘miu saya hilang’.  Saya bisa apa dengan kondisi skakmat begitu? Dan nggak ada yang bener2 bisa menenangkan perasaan saya. Nggak ada. Diculik? Kehujanan, basah, kedinginan, sakit? Makan makanan sampah, diare? Saya nggak bisa ngitung lagi berapa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi terhadap kucing pesolek ini. Semua pintu terbuka, peluang terus ada, air mata saya terus jatuh, menyapu setiap pori-pori kulit, meresap ke dalam seluk-seluk sari kain. Terakhir saya menangis seperti itu di sekolah, ketika masih kelas 2 SD, saat gigi susu terpaksa dicabut di puskesmas sebelah sekolah, dengan obat bius yang sama sekali tidak menjinakkan sakitnya.
Dan salah satu keberanian lainnya adalah, di suatu tengah malam, seekor penyelinap masuk. Kucing tetangga sebelah yang rakus. Ia masuk dengan jahat lewat jendela kamar saya yang terbuka lebar. Entah apa yang ia lakukan, namun jelas sebuah kekacauan besar. Buku2 sekolah saya ambruk , makanan kucing miu berserakan, minumnya tumpah. Ia, mungkin takut, jelas benar digambarkan, dari erangan keras nya. Ia bersembunyi yang entah dimana, namun itu sudah cukup membangunkan saya. Lalu dia keluar dari persembunyiannya, memaki-maki si bandit keluar dan penuh percaya diri membantuku mengancamnya agar tidak berani-berani lagi masuk ke sarang singa. Setidaknya setelah itu, si bandit hanya berdiri di depan jendela, dengan miu terus menenangkan keadaan agar aku tetap nyenyak. Aku tau. Karena sesekali aku bisa terbangun, membenarkan posisi tidur sambil meringankan beban pertahanannya. Menyuruh bandit kecil pergi. Membiarkan miu beristirahat di kepalaku. Melindungiku dari mimpi buruk. Manjur !
Indah bukan semuanya? Berlipat2 indahnya dari suratan kisah asmarapun.
Namun, ada hal yang benar2 membuat saya terpukul. Sangat terpukul di detik-detik kepergiannya.
Saya benar2 sibuk akhir-akhir itu. Pesantren kilat, buka bersama, menginap di rumah teman, dan pulang ke rumah hanya untuk tidur sejenak dan mandi lalu pergi lagi. Namun berbeda dengan miu. Dia, semangat sekali menyambut saya pulang. Mengeong2 tak karuan. Menari2 diatas ranjang saya. Menagajak saya bermain2 dengan membawa segumpal kertas atau apalah yang biasa saya pakai intik menggodanya. Tidak mempan. Saya capek. Saya mau tidur. Dia mengganggu. Dia terus mengeong berisik. Pintu saya kunci dari dalam. Dia masih mencakar2 pintu. Meraung2. Meraih2 saya lewat sela2 dasar pintu. Sampai akhirnya menyerah. Diam. Tidur didepan pintu. Dan sejam kemudian hanya termangu melihat saya hilir mudik bersiap untuk bergegas lagi.
Oh Tuhan, sampai bagian ini, saya benar2 masih marah dengan diri saya sendiri.
Dan tibalah ketika ketubannya pecah. Pagi2 buta saya melarikannya ke klinik? Oh tolong jangan paksa saya membeberkan lagi detailnya. Saya bisa dehidrasi air mata.
Dan yang tersakit dan yang paling sakit adalah, ketika saya harus mendengar  jerit kesakitan di kamar operasi dengan selang infus, selang oksigen, dia menangis. Kesakitan. Jauh sangat jauh lebih liar ketika ia mengamuk ketika saya mandikan di rumah. Ini lah raungan singa kecil saya. Dan hening ketika biusnya bekerja. Mata yang terakhir saya lihat, jelas sekali ia sedang meminta pertolongan saya. Memohon untu membentengi kesakitannya seperti ia membentengi saya dari bandit kampung payah ingusan. Tapi dokter tidak mengijinkan aku masuk. Sejengkal pun. Dan menurutmu, apa yg aku bisa lakukan dengan situasi seperti itu? Memohon apa saja kepada Tuhan dengan menggadaikan apapun dengan menukar nyawa dan kesembuhannya. Hanya itu. Tergolek lemas di pintu operasi dengan air mata yang benar2 meledak ketika sorang suster keluar dan hanya menyampaikan “Banyak berdoa, situasi kritis”. Tuhan, jangan ambil.......
Namun, bukankah selalu ‘Dia’ pemenang sekenario hidup?
Sudah 3 tahun, Miu. Sudah lama ya. Apa kabar? Akan senang sekali bila kau bisa datang berkunjung di setiap lelapku. Mejadikan jarak yang terbentang diantara kita terlihat lebih mudah dijangkau. Kecewalah kepadaku, marahlah, tumpahkanlah. Aku sama sekali tidak keberatan. Aku akan selalu mencari celah pengampunanmu. Aku akan menjadi seorang pemberani yang tegar seperti kau dulu. Aku belajar dan berhutang banyak padamu.
Miu memperbaiki banyak sekali masalah keluarga saya. Dulu sebelum saya punya kesayangan, dingin sekali atmosfer keluarga. Dia, menghangatkan keberadaan kami. Kelucuannya  menjadi topik paling hangat dan paling ditunggu satu sama lain. Ibu saya yang cat haters pun luluh akhirnya. Dan setelah kepergiannya, saya mendapat pelukan simpati dari Ayah saya yang benar-benar menguatkan saya. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir diperlakukan seperti itu. Seisi rumah, kerabat dan teman berlomba menyemangati saya, membuat relasi saya terbuka, miu mengingatkan saya bahwa sesungguhnya saya mempunyai banyak orang yang menyanyangi saya.
Miu memaksa saya belajar tentang menyembuhkan luka sendirian. Tidak lagi meringkuk di kasur, meminta pertlongan. Ia ingin saya berhati tegar. Dibentengi kuat-kuat. Agar tidak serapuh ranting-ranting pohon di kemarau panjang. Seretak tanah tandus mengemis-ngemis air. Sudah tidak ada lagi upik yang seperti itu.
Dan masih banyak hal yang ia sampaikan tentang hidup yang rapuh ini.
Namun dia, tetap menjadi gumpalan awan yang mengintip di bibir pintu kamarku.

Don't Judge
ϟ 0 shout(s)



Keyakinan
Dalam bahasa manusia, biasanya disebut dengan agama/religi. Apa itu agama? Keyakinan. Keyakinan tentang sesuatu yang dilakukannya (mungkin). Saya tidak akan membahas ini banyak, karena saya pun merasa belum mengenal agama saya sendiri. Lagi, saya lebih kepada seorang pendosa, pengkhianat Tuhan yang meminta ampunan.
Mengapa banyak orang memperdebatkan tentang perbedaan keyakinan?
Islam
Katolik
Kristen
Hindu
Budha
Kong hu chu
???
Bukankah semuanya tentang melakukan kebaikan?
Baik, sekarang saya sedang tidak berceramah tentang mana agama yang benar dan salah.
Mereka sama-sama menyembah pada pusat kehiduan sesuai keyakinan mereka . hanya sebutan yang berbeda. Allah, Alah, Sang Budha, Sang Hyang Widhi. Oke, kalau 6 agama terlalu kompleks. Kita sederhanakan menjadi satu agama saja. Islam. Ada berapa golongan dalam Islam? Banyak. Kenapa bisa begitu? Karena presepsi tiap orang tentang ‘Allah’ berbeda. Presepsi tentang 1 ayat Al-Quran bisa berbeda penerimaannya oleh 2 orang yang berdampingan. Mana yg benar? Bisa mana saja. Atau tidak dua-duanya. Lalu kenapa ada orang yang bersikeras bahwa yang ia lakukan adalah yang paling benar hingga berani menghakimi dan mengecam keyakinan lain adalah salah? Mari kita berfikir.
Seorang muslim A merasa sudah benar melaksanakan seluruh ajaran Nabi. Wajib dan sunah ia kerjakan. Ia mendapatkan ilmunya dari pengajian-pengajian yang sering ia ikuti. Kemudian ia mengetahui ada muslim B yang mengerjakan amalan dengan cara yang berbeda dengannya. Lalu muslim A mengecam ajaran B adalah salah sesat dsb.
Sekarang, kita bertanya. Muslim A mendapatkan cara berwudhu dari dakwah Uztad A. Bukankah berarti itu hanya imitasi? Saya berfikir agama adalah bagaimana kita menerjemahkan pesan Allah lewat Al-Quran. Dan kegiatan dakwah bagi saya adalah salah satu cara menjabarkan mksd dari suatu ayat. Tentang penerimaan dakwah saja, setiap orang berbeda-beda, apakah kita harus menelan bulat2 isi dakwah tersebut? Ya kalau ingin mencari kebenaran demi keyakinan diri, sebaiknya cerna dulu dengan diiringi membaca ayat dan mencoba memahami sendiri.
Kembali ke muslim A. Bagaimana ia menghakimi bahwa ajaran musim B adalah salah apabila ia hanya mendapat metode beribadah dari dakwah Uztad A yang mendapatkan dari Uztad S dan seterusnya. Ingat pesan berantai? Antar satu orang ke orang berikutnya, penerimaannya bisa berubah. Lalu bagaimana dengan agama yang sudah ribuan tahun ini?
Menurut saya, semua tentang bagaimana perilaku kita. Tidak perlu menghakimi. Agama adalah urusan manusia dengan Tuhannya. Bukan dengan manusia lain.
Dan, jangan menghubungkan moral seorang manusia dengan keyakinan yang dimilikinya. Karena agamanya tentu tidak pernah mengajari bermoral busuk. Mungkin dia memang kurang dekat dengan Tuhan, maka ia tersesat. Dia, yang tidak mendekatkan diri. Jadi jangan salahkan keyakinannya.

Hamba Pendosa
ϟ 0 shout(s)



Mungkin semua kekurang beruntungan saya ini disebabkan oleh dosa-dosa yang terus saya lakukan tanpa niatan menguranginya.

Saya tersesat. Saya hilang. Saya seperti tidak bernyawa. Saya seperti tidak punya gairah hidup. Saya merasa sedang dalam masa keterpurukan. Saya seperti tidak punya identitas. Saya kehilangan akses kemana saja yang seharusnya saya bisa.

Mempunyai segudang masalah menurut saya lebih baik daripada hidup tanpa gairah seperti ini. Mempunyai masalah berarti ada yg harus dilakukan, yaitu menyelesaikannya. Dan setelah itu biasanya ada yang berkembang dalam pikiran kita. Ya, sebenarnya hidup seperti ini juga merupakan masalah bukan? Ya, Tuhan sedang ingin bercanda. Bermain teka teki. Menguji saya apakah saya bisa mencari takdir saya tanpa pintu seperti ini. Jujur saja ini tidak lucu.
Saya tidak mengenal diri saya, apa yang saya inginkan dalam hidup saya sekarang. Saya seperti manusia usang. Saya benar-benar merasa saya bukan apa-apa dan siapa-siapa. Semua seolah-olah hilang. Diambil-Nya satu-satu.
Am I a dancer? Saya nggak berfikiran demikian. Saya hanya bisa sedikit menari. Buktinya sekarang, saya mengulangi dari 0. Iam losing my existency. Vakum 1th benar-benar mengubah semuanya. I understand. That is entertain world. When u can’t keep your existency, the other will move ur space. Saya mau sabar. Saya mau ngulangin. Makanya saya masuk sanggar lagi. Saya benar-benar nggak mau, Tuhan mengambil kemampuan saya ini.
Mungkin saya harus berbagi. Agar ilmu yang di titip kan Tuhan ke saya, nggak Cuma berhenti di saya. Saya mau anugerah ini saya bagi-bagi. Eksistensi atau apalah yang dulu saya kejar, sekarang berubah haluan. Sekarang, gimana saya bisa transfer kesenangan bergerak ini kepada orang lain. Saya pengen orang lain bisa ikut senang hanya dengan bergerak.
Kembali pada lingkaran hitam.
Dulu, ketika saya berada pada masa kejayaan, oh how amazing iam. Saya seorang yang penuh bakat dan prestasi. Selalu ada target hidup yg selalu tercapai. Semua orang menyukai saya. Semua berharap banyak pada saya. Semua membantu saya. Semua berdoa untuk saya. Semua memerebutkan saya. Dan percaya diri saya timbul sangat tinggi ketika itu. Dan satu lagi, saat itu saya adalah seorang yang taat. Sekali lagi, saya seorang yang taat.
Rentang waktu itu, benar-benar merubah diri saya. Saya mencoba apa yg belum pernah saya cba. Merasakan yang tidak pernah saya rasakan. Menutupi segala eksperimen hidup baru dengan kebohongan-kebohongan. Dan eksperimen hidup itu menjerumuskan saya melakukan perbuatan dosa. Mungkin ini yang saya unduh dari semua itu. Kehancuran. Tak ada pertolongan untu pendosa seperti saya.
Beberapa kali saya menyadari dan merubah pola hidup saya.
Dan Tuhan terus mengulurkan tangannya.
Dan sekian kali juga saya lalai menjabat tangan Tuhan.
Dan mendosa lagi.
Menyesal lagi.
Mendosa lagi.
Di hantui lagi.

Ya Tuhan saya benar-benar kehilangan diri saya sendiri !
Seperti ada mendung gelap diatas kepala saya yang setiap hari bertambah hitam dan gumpalannya semakin besar. Menunggu untuk saya sibak.

new past