Kabarmu Hujan
Tuesday, August 28, 2012, ϟ 0 shout(s)

aku baru saja bangun tidur ketika terdengar suara riuh di luar. jendela kamarku mengembun, putih. rintik-rintik hujan pagi ini menjatuhi atap ku satu-satu. hay hujan, apa kabarmu hari ini? kamu datang sangat anggun, mengusir embun-embun yang masih meringkuk nyaman di lekuk-lekuk dedaunan lebar di ujung jalan. angin mengaburkan satu dua titik ke permukaan jendela. dan aku melihat ia meluruh malu-malu ketika kutempelkan ujung jariku di jendela.

hay hujan, apa kabar pelangi? akan kah dia datang setelah kamu pergi? tanyakan padanya, mengapa ia tidak punya banyak waktu untuk menampakkan diri? terlalu indahkah ia untuk ku kagumi? menyenangkan melihat kalian mewarnai langit yang kadang-kadang menjadi kelabu menyeramkan.
hay hujan. kau tidak akan tau betapa aku merindukan bau tanah ketika kau turun kali pertama setelah kemarau panjang menghauskan ranting-ranting kayu yang nyaris patah.
ketika kau datang mewarnai jendela kamarku, tahukah kau aku sedang menitipkan doaku untuk seorang yang juga senang memandangimu juga dari jendela?
tapi aku rasa, ia lebih senang menjumpaimu di luar sana. ia akan selalu menikmati kecupan-kecupan kecil yang memeluknya deras. licik sekali memang. karena aku tidak pernah tau apakah ia sedang menangis atau tertawa di tengah deras nya air yang kau jatuhkan ke kepalanya.
jujur saja, aku tidak mau berbasah kuyup. aku terlalu tidak sanggup mengeringkan badanku sendirian. aku memilih mengatapi dengan doa.
haha coba lihat. matahari yang aku tempelkan di jendela. aku berdoa semoga matahari datang dan seseorang itu mengetuk pintuku dari luar sembari mengucap salam dan membawa sebuah payung untuk kami. sehingga aku tidak perlu takut ketika kami berjalan ditengah derasnya kau, karena aku sudah tidak takut lagi basah sendirian.

new past