Keledai
Tuesday, October 16, 2012, ϟ 0 shout(s)

dulu.. ketika kamu disini, ya aku masih ingat...
kamu ada, namun aku masih sibuk mencari yang.... entah apa.. selalu merasa kurang saja.

aku, sibuk memperhatikan banyak hal di luar kuasaku..
memandangi dan terus berharap menjadi milikku suatu saat..
mengabaikan kanan dan kiriku bahkan yang sedang ada dalam genggamanku..
yang mengenggam dengan teguh..
yang tidak punya kata menyerah..

pada akhirnya genggaman itu terlepas..
dan hilang..
aku nyaris lupa, apakah aku yg membuat nya terlepas?
dan aku masih belum sepenuhnya sadar
dengan terus mengejar.. yang... entah itu apa.

ketika suatu hari aku berhasil menggejar itu,
aku nyaris berteriak pada semesta
bahwa aku adalah hamba yang paling beruntung
namun, sepertinya ia membiarkan ku berteriak-teriak gila
dengan semua kalimat yang aku buat
kemudian ia tertawa dengan sinisnya dibelakangku
dan.. kembali aku merasa bodoh..
ya aku dibodohi..
atau mungkin aku memang terlalu bodoh
dan lebih bodohnya adalah aku tetap bertahan dengan kebodohanku
dan aku membanggakan kebodohanku !
aku mengakui dan aku mebenarkannya .
miris .... begitulah aku.

dan ketika semesta meneriaki aku sebagai seekor keledai
aku, nyaris berhenti berdoa.
aku kehilangan semua yang dulu mendoakan aku
pasir pantai..
kaki gunung..
mega senja..
entah apa lagi...

aku menutup mukaku
membiarkannya tenggelam bersama seluruh kedunguan dan dosa..
aku terisak dalam-dalam..
tanpa suara..
aku tidak ingin semut merah di balik semak mengadukan suara tangisku ada kumbang
aku tidak ingin air mataku jatuh, karena tanah akan mengadukan kepada tawa sang rumput..

dan. apapun yg sedang aku lakukan ketika itu..
kamu, menangkap satu-satu air mataku..
dan (lagi) aku masih belum sepenuhnya sadar..
kamu ada lagi. disini.
kemudian aku berhenti meminta lebih

kini aku tau, satu kebaikan Tuhan adalah yang terbaik ,dari 1000 rencana kita ..

new past