Don't Judge
Sunday, July 28, 2013, ϟ 0 shout(s)



Keyakinan
Dalam bahasa manusia, biasanya disebut dengan agama/religi. Apa itu agama? Keyakinan. Keyakinan tentang sesuatu yang dilakukannya (mungkin). Saya tidak akan membahas ini banyak, karena saya pun merasa belum mengenal agama saya sendiri. Lagi, saya lebih kepada seorang pendosa, pengkhianat Tuhan yang meminta ampunan.
Mengapa banyak orang memperdebatkan tentang perbedaan keyakinan?
Islam
Katolik
Kristen
Hindu
Budha
Kong hu chu
???
Bukankah semuanya tentang melakukan kebaikan?
Baik, sekarang saya sedang tidak berceramah tentang mana agama yang benar dan salah.
Mereka sama-sama menyembah pada pusat kehiduan sesuai keyakinan mereka . hanya sebutan yang berbeda. Allah, Alah, Sang Budha, Sang Hyang Widhi. Oke, kalau 6 agama terlalu kompleks. Kita sederhanakan menjadi satu agama saja. Islam. Ada berapa golongan dalam Islam? Banyak. Kenapa bisa begitu? Karena presepsi tiap orang tentang ‘Allah’ berbeda. Presepsi tentang 1 ayat Al-Quran bisa berbeda penerimaannya oleh 2 orang yang berdampingan. Mana yg benar? Bisa mana saja. Atau tidak dua-duanya. Lalu kenapa ada orang yang bersikeras bahwa yang ia lakukan adalah yang paling benar hingga berani menghakimi dan mengecam keyakinan lain adalah salah? Mari kita berfikir.
Seorang muslim A merasa sudah benar melaksanakan seluruh ajaran Nabi. Wajib dan sunah ia kerjakan. Ia mendapatkan ilmunya dari pengajian-pengajian yang sering ia ikuti. Kemudian ia mengetahui ada muslim B yang mengerjakan amalan dengan cara yang berbeda dengannya. Lalu muslim A mengecam ajaran B adalah salah sesat dsb.
Sekarang, kita bertanya. Muslim A mendapatkan cara berwudhu dari dakwah Uztad A. Bukankah berarti itu hanya imitasi? Saya berfikir agama adalah bagaimana kita menerjemahkan pesan Allah lewat Al-Quran. Dan kegiatan dakwah bagi saya adalah salah satu cara menjabarkan mksd dari suatu ayat. Tentang penerimaan dakwah saja, setiap orang berbeda-beda, apakah kita harus menelan bulat2 isi dakwah tersebut? Ya kalau ingin mencari kebenaran demi keyakinan diri, sebaiknya cerna dulu dengan diiringi membaca ayat dan mencoba memahami sendiri.
Kembali ke muslim A. Bagaimana ia menghakimi bahwa ajaran musim B adalah salah apabila ia hanya mendapat metode beribadah dari dakwah Uztad A yang mendapatkan dari Uztad S dan seterusnya. Ingat pesan berantai? Antar satu orang ke orang berikutnya, penerimaannya bisa berubah. Lalu bagaimana dengan agama yang sudah ribuan tahun ini?
Menurut saya, semua tentang bagaimana perilaku kita. Tidak perlu menghakimi. Agama adalah urusan manusia dengan Tuhannya. Bukan dengan manusia lain.
Dan, jangan menghubungkan moral seorang manusia dengan keyakinan yang dimilikinya. Karena agamanya tentu tidak pernah mengajari bermoral busuk. Mungkin dia memang kurang dekat dengan Tuhan, maka ia tersesat. Dia, yang tidak mendekatkan diri. Jadi jangan salahkan keyakinannya.

new past