Duka Kecil Yang Menyeruak
Sunday, July 28, 2013, ϟ 0 shout(s)



Ini hanya sedikit curahan duka saya atas nostalgia miu yang tiba2 menguap. Entah bisa menyentuh emosimu atau tidak. Tapi pastilah, kalau kau pernah mempunyai ‘kesayangan’ , kau tau apa ‘rasa’ ini.
Yang akhirnya saya sadari, beberapa menit lalu, ketika saya masih menggulung diri di kasur, dengan Chiken Soup di tangan.. 75 kisah kucing, sudah sangat cukup menjelaskan tentang yang sebenarnya terjadi. 75 itu hanya satu persekian triliun kisah lainnya..
Dulu , setiap saya membaca kisah2 keajaiban yang bisa datang dari seekor kucing, saya hanya berfikir “Kenapa kucing ku nggak kayak gitu. Kenapa kucingku biasa aja? “ dan pertanyaan itu benar2 saya sesali sekarang. Saya membayangkan, dia sedang di pangkuan Tuhan, bertanya “Tuhan, apakah Engkau mencipptakan makhluk yang biasa saya seperti aku? Mengapa aku? Mengapa aku tidak Kau jadikan aku spesial seperti yang pemilikku inginkan?”. Dan aku masih tetap pertanyaan yang sama disini. Bukankah itu menyakitkan?
Oke tunggu. Saya sedang mencari tisu untuk mengeringkan pipi saya..

Dan, ingatan yang lagi adalah, tentang seorang teman psikolog yang membaca grafis saya yang mengatakan “Kau ada trauma mendalam”. Dan aku langsung merutuk pada sebuah nama mantan ‘kekasih’ yang sudah saya hapus dari peradaban sejarah hidup. Tapi sepertinya bukan dia..
                Tadi sore, aku sedang berada di rumah nenekku. Aku sedang duduk di teras saja, menunggu pintu yang tidak segera dibuka. Tiba2 seekor kucing berlari cepat di depan rumah. Lalu berhenti mematung lama sekali. Aku dan dia beradu pandang. Lama sekali. Dan selalu yang saya katakan adalah “Hai?” lalu dia berjalan pelan, anggun, ke arah semak2. Seolah tidak ada lagi yang perlu di takutkan sehingga berlari-lari gila. Seperti itulah interaksi kami. Sederhana sekali kan? Tapi bisa tidak kau percaya, bahwa detik itu perasaan saya mekar. Mengembang. Dan saya menyimpulkan “Tidak ada lagi mata yang dapat menyelamatkan hatimu setelah ibu dan ayah, kecuali kucing”.
Tapi, kau juga tidak akan pernah tau sebelum mengalaminya. Bahwa tatapan meratap seekor kucing dapat membawa mimpi buruk dan kecemasan yang dapat membunuhmu pelan2. Setidaknya itu yg saya alami.
Mungkin sudah cukup basa-basinya.
Waktu itu, saya masih gadis labil yang baru saja menerima Ijazah SMP.
Dan mbak pulang dengan keranjang hijau di tangan. “Dek, ini temenku udah males ngurus kucing. Di titipin kita. Dirawat yaa”.  Dan itu bener2 salah satu hari terindah. Gumpalan awan itu bergerak keluar dari dalam keranjang. Bersembunyi dibalik meja2 dan apapun yang dapat melindungi badannya.
“Dititipin sampe kapan mbak?”
“Sampe kamu bosen”
“Ih nggak mungkin lah kalo bosen!” dan si kucing cuma sembunyi sana sembunyi sini. “Kok gak mau dipegang?”
“Dah biarin aja dulu. Dulu sering dipukulin, jadi ya gitu. Penakut sekarang.”
Dan ideku muncul. Pura-pura jaim. Pura-pura nggak sadar ada anggota negara baru di sini. Acuh. Iya pura-pura. Padahal mata tetap jaga-jaga, kalo-kalo dia butuh bantuan (?).
Sayanya sih sok belajar. Gulung2 di kasur dengan seluruh kegiatan berpusat pada pena dan buku tulis. Dan dia, cuma di bibir pintu. Mengintip.
3 hari dia siaga mengawasi gerak gerik saya. Tapi tetap menggan dipegang. Kalau dipaksa? Meraung.
Dan bendera kemenangan saya sudah tiba. Pertahanannya lebur, mencair. Dia, sudah berlari-lari di hari empat dan seterusnya. Ketika saya sok belajar, boro-boro dia ngintip saya. Dia malah udah naik ke ranjang, menjarah isi pensil dan menggigiti semuanya. Buku saya, lecek parah.
Dan dihari-hari lelah, saya selalu mencari2 dia. Meskipun tidur, meskipun sedang malas bermain, meskipun sedang acuh parah sama saya. Saya Cuma mau dengerin dengkuran nya. Itu lebih dari pelukan patjar kamu. Di waktu-waktu sedih, saya mencari2 matanya, yang akan dengan senang hati menemani saya meringkuk di ranjang, meneduhkan hati saya, memadamkan emosi saya.
Di malam-malam yang senyap, dia senang menyusul saya tidur di kaki saya, di dada saya, di leher saya, di rambut saya, di muka saya ! dia hobi meraih rambut saya yang lebih mirip benang kusut. Iya kucing suka tali, dan ini lah bentuk simile paling jujur. Huhh
Di lain waktu, dia suka membangunkan saya dini hari. Ya, solat malam lah. Apa lagi. Seperti digigit2nya kaki saya sampai bangun, atau diinjak2nya badan saya tidak sabar.
Dan cinta-cinta yang kecil ini berubah wujud menjadi ‘gila’ . Dan perwujudan kegilaan yang pertama adalah ketika, mbak saya telfon ketika saya masih ‘pelajaran’ dan dengan suara yang jelas2 nggak bisa di dengerin karena mungkin hape sudah air mata semua, bilang ‘miu saya hilang’.  Saya bisa apa dengan kondisi skakmat begitu? Dan nggak ada yang bener2 bisa menenangkan perasaan saya. Nggak ada. Diculik? Kehujanan, basah, kedinginan, sakit? Makan makanan sampah, diare? Saya nggak bisa ngitung lagi berapa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi terhadap kucing pesolek ini. Semua pintu terbuka, peluang terus ada, air mata saya terus jatuh, menyapu setiap pori-pori kulit, meresap ke dalam seluk-seluk sari kain. Terakhir saya menangis seperti itu di sekolah, ketika masih kelas 2 SD, saat gigi susu terpaksa dicabut di puskesmas sebelah sekolah, dengan obat bius yang sama sekali tidak menjinakkan sakitnya.
Dan salah satu keberanian lainnya adalah, di suatu tengah malam, seekor penyelinap masuk. Kucing tetangga sebelah yang rakus. Ia masuk dengan jahat lewat jendela kamar saya yang terbuka lebar. Entah apa yang ia lakukan, namun jelas sebuah kekacauan besar. Buku2 sekolah saya ambruk , makanan kucing miu berserakan, minumnya tumpah. Ia, mungkin takut, jelas benar digambarkan, dari erangan keras nya. Ia bersembunyi yang entah dimana, namun itu sudah cukup membangunkan saya. Lalu dia keluar dari persembunyiannya, memaki-maki si bandit keluar dan penuh percaya diri membantuku mengancamnya agar tidak berani-berani lagi masuk ke sarang singa. Setidaknya setelah itu, si bandit hanya berdiri di depan jendela, dengan miu terus menenangkan keadaan agar aku tetap nyenyak. Aku tau. Karena sesekali aku bisa terbangun, membenarkan posisi tidur sambil meringankan beban pertahanannya. Menyuruh bandit kecil pergi. Membiarkan miu beristirahat di kepalaku. Melindungiku dari mimpi buruk. Manjur !
Indah bukan semuanya? Berlipat2 indahnya dari suratan kisah asmarapun.
Namun, ada hal yang benar2 membuat saya terpukul. Sangat terpukul di detik-detik kepergiannya.
Saya benar2 sibuk akhir-akhir itu. Pesantren kilat, buka bersama, menginap di rumah teman, dan pulang ke rumah hanya untuk tidur sejenak dan mandi lalu pergi lagi. Namun berbeda dengan miu. Dia, semangat sekali menyambut saya pulang. Mengeong2 tak karuan. Menari2 diatas ranjang saya. Menagajak saya bermain2 dengan membawa segumpal kertas atau apalah yang biasa saya pakai intik menggodanya. Tidak mempan. Saya capek. Saya mau tidur. Dia mengganggu. Dia terus mengeong berisik. Pintu saya kunci dari dalam. Dia masih mencakar2 pintu. Meraung2. Meraih2 saya lewat sela2 dasar pintu. Sampai akhirnya menyerah. Diam. Tidur didepan pintu. Dan sejam kemudian hanya termangu melihat saya hilir mudik bersiap untuk bergegas lagi.
Oh Tuhan, sampai bagian ini, saya benar2 masih marah dengan diri saya sendiri.
Dan tibalah ketika ketubannya pecah. Pagi2 buta saya melarikannya ke klinik? Oh tolong jangan paksa saya membeberkan lagi detailnya. Saya bisa dehidrasi air mata.
Dan yang tersakit dan yang paling sakit adalah, ketika saya harus mendengar  jerit kesakitan di kamar operasi dengan selang infus, selang oksigen, dia menangis. Kesakitan. Jauh sangat jauh lebih liar ketika ia mengamuk ketika saya mandikan di rumah. Ini lah raungan singa kecil saya. Dan hening ketika biusnya bekerja. Mata yang terakhir saya lihat, jelas sekali ia sedang meminta pertolongan saya. Memohon untu membentengi kesakitannya seperti ia membentengi saya dari bandit kampung payah ingusan. Tapi dokter tidak mengijinkan aku masuk. Sejengkal pun. Dan menurutmu, apa yg aku bisa lakukan dengan situasi seperti itu? Memohon apa saja kepada Tuhan dengan menggadaikan apapun dengan menukar nyawa dan kesembuhannya. Hanya itu. Tergolek lemas di pintu operasi dengan air mata yang benar2 meledak ketika sorang suster keluar dan hanya menyampaikan “Banyak berdoa, situasi kritis”. Tuhan, jangan ambil.......
Namun, bukankah selalu ‘Dia’ pemenang sekenario hidup?
Sudah 3 tahun, Miu. Sudah lama ya. Apa kabar? Akan senang sekali bila kau bisa datang berkunjung di setiap lelapku. Mejadikan jarak yang terbentang diantara kita terlihat lebih mudah dijangkau. Kecewalah kepadaku, marahlah, tumpahkanlah. Aku sama sekali tidak keberatan. Aku akan selalu mencari celah pengampunanmu. Aku akan menjadi seorang pemberani yang tegar seperti kau dulu. Aku belajar dan berhutang banyak padamu.
Miu memperbaiki banyak sekali masalah keluarga saya. Dulu sebelum saya punya kesayangan, dingin sekali atmosfer keluarga. Dia, menghangatkan keberadaan kami. Kelucuannya  menjadi topik paling hangat dan paling ditunggu satu sama lain. Ibu saya yang cat haters pun luluh akhirnya. Dan setelah kepergiannya, saya mendapat pelukan simpati dari Ayah saya yang benar-benar menguatkan saya. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir diperlakukan seperti itu. Seisi rumah, kerabat dan teman berlomba menyemangati saya, membuat relasi saya terbuka, miu mengingatkan saya bahwa sesungguhnya saya mempunyai banyak orang yang menyanyangi saya.
Miu memaksa saya belajar tentang menyembuhkan luka sendirian. Tidak lagi meringkuk di kasur, meminta pertlongan. Ia ingin saya berhati tegar. Dibentengi kuat-kuat. Agar tidak serapuh ranting-ranting pohon di kemarau panjang. Seretak tanah tandus mengemis-ngemis air. Sudah tidak ada lagi upik yang seperti itu.
Dan masih banyak hal yang ia sampaikan tentang hidup yang rapuh ini.
Namun dia, tetap menjadi gumpalan awan yang mengintip di bibir pintu kamarku.

new past