Frame
Wednesday, December 11, 2013, ϟ 0 shout(s)



Aku, Kamu, dan Selang Oksigen.
Siang itu, kita masih di ruang IGD. Kau masih merintih menahan perih karena kedua perawat sedang membersihkan lukamu dengan kapas basah. Tangan kirimu semakin erat ketika sebuah jarum suntik dipaksa masuk menembus pori-pori kulitmu. Air infus menetes satu-satu. Nafasmu tersenggal-senggal dibantu alat bantu pernafasan. Uap air keluar dari selang bening yang segera masuk ke lubang hidungmu. Hening. Hanya ada desis air yang sebentar lagi habis karena diubah menjadi gas.
“Maaf,” dengan segala upayamu kau mengatakannya demikian pelan. Aku benci. Sungguh membenci ini. Air matamu menggenang. Sungguh berhentilah merasa bersalah. Kumohon jangan sekarang. Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu. Aku tidak ingin kamu sembuh begitu saja. Aku ingin kau sembuh segera. Tolonglah sembuh secepatnya. Aku butuh melihat kau bahagia juga.
Lalu pintu IGD terbuka. Orang tuamu.


Aku, Kamu, dan Tetes Infus.
                Televisi masih menyala tanpa suara. Ibumu sedang melepas lelah dibelakangku. Suara AC bergemuruh pelan mengisi seluruh sudut ruangan. Kau menatapku lesu, tak memiliki cukup daya untuk bicara apalagi bangkit. Kita bertatapan untuk sekian lama. Ditemani tetes infus dan layar tv yang bisu, kita saling menguatkan dalam diam.
                Tiba-tiba bola matamu bergerak keatas. “Pik air infusku habis.”


Aku, Ibumu, dan Teras Rumah Sakit.
                Sore itu,awan menyembunyikan sisa cahaya matahari. Lampu-lampu sudah dinyalakan sebagai pengusir gelap. Namun sepertinya matamu tak juga segera lepas menatapku. Kantukmu tak bisa bersembunyi dibaliknya. Sesekali kau memejamkan mata. Lalu terjaga lagi. Begitu untuk sekian waktu hingga otot matamu akhirnya menyerah.          
                Dengan sangat hati-hati, kulepaskan tanganmu. Langkahku keluar pelan-pelan. Lalu duduk di sebelah ibumu di kursi panjang teras. Kami saling melempar diam. Titik-titik air yang jatuh dari langit memecah keheningan menjadi gemuruh lirih.
                “Hujan tante.”
                “Iya. Dingin,” dilanjutkan senyum tipis dan lagi-lagi sunyi.
                Sungguh bisa aku rasakan segala lelah yang tampak di raut wajahnya. Lorong-lorong panjang rumah sakit yang menggemakan para air yang sudah kian deras. Dan lagi-lagi hanya ada hening panjang diantara kami.


Aku, Tiramisu, dan Sepotong sosis.
                Aku membeku. Otakku membatu. Jalan pikiranku buntu. Tangan kananku memegang pisau dan tangan kiriku memegang garpu. Sosis di depanku sudah sedingin suhu AC ruangan ini. Es batu terakhir baru saja mencair. Mataku baru saja meleleh ketika pelanggan terakhir baru saja keluar. Kedua garis di bawah mataku makin memperjelas keadaanku. Harus sepperti inikah Tuhan menghukum kami?
                Ya, pesan singkat terakhirmu. Seolah Tuhan membiarkan aku tenggelam bersama seluruh hutang moral. Membiarkan aku terseok dengan pernyataan putus asamu. Membiarkan aku sekarat bersama rasa bersalahku.
                “Kak, ini bill-nya.”


Aku saja.
                Barusaja kudapati sebuah fakta gila. Membekukan seluruh jalan pikiranku. Mematikan syaraf-syaraf kemanusiaanku. Aku hanya tercengang dalam getir panjang. Aku, ya aku, dengan kondisi kejiwaan sangat sehat, sedang tidak bisa menelan segala bentuk emosi apapun.
                Aku. Sedang duduk di teras rumah sakit dengan pandangan tidak fokus. Meremas ujung serat kain kuat-kuat. Mencari celah-celah kekuatan dari kecilnya harapan. Aku masih tidak mengerti mengapa Tuhan menganggap aku sanggup melewati ini. Bahkan untuk menyelamatkan diri sendiripun aku sudah sepayah ini. Tidak ada yg sanggup aku tulis untuk mewakilkan segenap perasaan yg sekarang naik ke permukaan.

new past